DALAM KONTEKS PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013
Oleh
: Sri Restiana Rahmat
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan,
metode pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang menunjang
keberhasilan dalam proses belajar mengajar tersebut. Seperti telah dikenalkan
dalam banyak buku, banyak sekali metode-metode pengajaran tersebut, seperti
metode ceramah, diskusi, atau musyawarah, metode kerja kelompok, metode
sosiodrama atau bermain peran (role playing), metode latihan
siap (drill), metode resitasi (pemberian tugas), metode sistem
regu (team teaching), dan lain-lain.
Dari sekian banyak metode
yang telah disebutkan di atas memungkinkan para guru untuk memilih metode mana
yang cocok untuk digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran, bahkan guru
dapat memakai satu, dua atau lebih metode dalam sekali mengajar.
Dalam makalah ini kami akan
mengangkat tema sebuah metode yang merupakan inovasi dalam metodologi
pendidikan yaitu metode Non-Directive yang akan dijelaskan di bawah ini.
|
Kurikulum dan Pendidikan
bagaikan dua keping uang, antara yang satu dengan yang lainnya saling
berhubungan dan tidak bisa terpisahkan. Dengan berkembangnya kurikulum
pendidikan, maka berkembang pula suatu pendidikan, terutama dalam hal
pembelajaran. Sesuai dengan kurikulum 2013, bahwa dalam hal pembelajaran
peserta didik lebih ditekankannya aspek afektif, lebih khusus lagi yang
berhubungan dengan pendidikan karakter. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Adapun pembelajaran secara umum
adalah suatu usaha yang sengaja menggunakan pengetahuan professional yang
dimiliki pendidik untuk mencapai tujuan kurikulum. Sehingga dalam
pelaksanaannya antara kurikulum dan pembelajaran tidak dapat di pisahkan.
Adapun dalam analisis ini
hanya akan dibahas mengenai perkembangan konsep pembelajaran Non Direktif dalam kontks pembelajaran yang terkandung
dalam kurikulum 2013 yang akan mempengaruhi model-model pembelajaran yang
dilakukan, sehingga dapat dilihat konsep pembelajaran yang ditonjolkan dalam
kurikulum 2013.
B. Batasan
dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Dari uraian di atas, penyajian makalah
dibatasi pada “Bagaimana model pembelajaran non direktif dalam konteks
pembelajaran kurikulum 2013 yang akan dikembangkan”
2. Rumusan Masalah
a.
Apa
yang dimaksud dengan model pembelajaran non direktif dan bagaimana prosedur
pelaksanaannya?
b.
Bagaimana
konsep pembelajaran kurikulum 2013 yang akan dikembangkan?
c.
Bagaimana
relevansi model pembelajaran non direktif terhadap konsep pembelajaran
kurikulum 2013?
C. Tujuan
dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a.
Untuk
mengetahui model pembelajaran non direktif dan bagaimana prosedur
pelaksanaannya.
b.
Untuk
mengetahui konsep pembelajaran kurikulum 2013 yang akan dikembangkan.
c.
Untuk
mengetahui relevansi model pembelajaran non direktif terhadap konsep pembelajaran kurikulum 2013.
2. Manfaat Penelitian
a.
Dapat
dijadikan sebagai salah satu bahan masukan bagi para guru dalam menetapkan
kebijakan penetapan model pembelajaran pada konsep pembelajaran kurikulum 2013 yang dijalankannya.
b.
Dapat
dijadikan sebagai salah satu bahan referensi bagai peneliti lain yang berminat
melakukan penelitian di bidang model pembelajaran non direkktif di masa yang akan datang.
c.
Bagi
peneliti dapat dijadikan sebagai media latihan untuk mengaplikasikan kembali model-model
pembelajaran yang pernah dipelajari selama mengikuti perkuliahan.
D. Kerangka
Berfikir
Kerangka pemikiran adalah suatu diagram
yang menjelaskan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian.
Kerangka pemikiran dibuat berdasarkan pertanyaan penelitian (research
question), dan merepresentasikan suatu himpunan dari beberapa konsep serta
hubungan diantara konsep-konsep tersebut (Polancik, 2009)
Berdasarkan dukungan landasan teoritik
yang diperoleh dari eksplorasi teori yang dijadikan rujukan konsepsional variabel
penelitiandi atas, maka dapat disusun Kerangka Pemikiran sebagai berikut :
![]() |
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Metode
Pembelajaran Non Direktif
Metode
ini dikemukakan oleh Carl Rogers. Dalam pengajaran seharusnya didasarkan pada
konsep-konsep hubungan manusiawi diri pada konsep-konsep bidang studi, proses
berpikir atau sumber-sumber intelektual lainnya. Menurut metode ini guru
berperan sebagai fasilitator dan membantu siswa menjelajahi ide-ide baru
tentang hidupnya, tugas sekolahnya dan kehidupan dengan teman-temannya.
Peran
guru dari pengajaran non-direktif adalah pada peran dari guru tersebut sebagai
fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Didalam peran ini, guru
akan membantu siswa untuk menemukan gagasan-gagasan baru tentang kehidupannya,
baik yang berhubungan dengan sekolah maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Metode
ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan
keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk
berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka
dengan orang lain.
Metode
ini dikembangkan untuk membuat pendidikan menjadi suatu proses yang aktif bukan
pasif. Cara belajar ini dilakukan agar para siswa mampu melakukan observasi
mereka sendiri, mampu mengadakan analisis mereka sendiri, dan mampu berpikir
sendiri. Mereka bukan hanya mampu menghafalkan dan menirukan pendapat orang
lain. Juga dapat merangsang para siswa agar berani dan mampu menyatakan dirinya
sendiri aktif, bukan hanya menjadi pendengar yang pasif terhadap segala sesuatu
yang dikatakan oleh guru.
Siswa
diizinkan untuk meneliti sendiri dari perpustakaan, ataupun kenyataan di
lapangan. Guru hanya memberi pokok-pokok tugas, yang telah tersusun sehingga
dengan tugas tersebut siswa dapat melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1.
Observasi pada objek pelajaran;
2.
Menganalisa fakta yang dihadapi;
3.
Menyimpulkan sendiri hasil pengamatannya;
4.
Menjelaskan apa yang telah ditemukan;
5.
Membendingkan dengan fakta yang lain.
Guru
hanya memberi permasalahan yang merangsang proses berpikir siswa, sehingga
objek belajar itu berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian
siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan yang digalinya, aktif berpikir dan
menyusun pengertian yang baik.
Perlu
disampaikan juga disini bahwa yang dimaksud dengan non-direktif adalah tanpa menggurui.
Model pengajaran non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh lain
pengembang konseling non-direktif.
Peran
guru dalam model pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru
hendaknya mempunyai hubungan pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu
sebagai pembimbing bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam menjalankan
perannya ini, guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya,
lingkungan sekolahnya dan hubungannya dengan orang-orang lain. Model ini menggambarkan
konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana
kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat
ditekankan. Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat
mempedulikan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan
merumuskan solusi-solusinya.
Pengajaran
non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator
berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan
menciptakan suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa
dapat dipupuk dan dikembangkan.
Guru
juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan
dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru
secara tidak langsung berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan
perasaan bisa diterima.
B. Prosedur
Pembelajaran Non Direkktif
Teknik utama dalam
mengaplikasikan model pembelajaran pengajaran tidak langsung adalah apa yang
diistilahkan oleh Roger sebagai Non-directive Interview atau wawancara tanpa
menggurui, yaitu wawancara tatap muka antara guru dan siswa. Selama wawancara,
guru berperan sebagai kolaborator dalam proses penggalian jati diri dan
pemecahan masalah siswa. Inilah yang dimaksud dengan tanpa menggurui
non-directive.
Kunci utama keberhasilan
dalam menerapkan model ini adalah kemitraan antara guru dan siswa. Menurut
Rogers, iklim wawancara yang dilakukan oleh guru harus memenuhi empat syarat
yaitu:
(1) guru harus mampu menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa dan memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia, (2) guru harus mampu membuat siswa dapat mengekspresikan perasaanya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah atau mencap buruk), (3) siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaanya, dan (4) proses konseling (wawancara) harus bebas dari tekanan;
(1) guru harus mampu menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa dan memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia, (2) guru harus mampu membuat siswa dapat mengekspresikan perasaanya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah atau mencap buruk), (3) siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaanya, dan (4) proses konseling (wawancara) harus bebas dari tekanan;
C. Orientasi
Pembelajaran Non Direktif
Sebelumnya perlu disampaikan disini bahwa
yang dimaksud dengan non-direktif adalah tanpa menggurui. Model pengajaran
non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh
lain pengembang konseling non-direktif.
Peran guru dalam model pembelajaran ini
adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru hendaknya mempunyai hubungan
pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu sebagai pembimbing bagi pertumbuhan
dan perkembangannya. Dalam menjalankan perannya ini, guru membantu siswa
menggali ide/gagasan tentang kehidupannya, lingkungan sekolahnya dan
hubungannya dengan orang-orang lain. Model ini menggambarkan konsep yang
dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas
klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan.
Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat mempedulikan
kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan merumuskan
solusi-solusinya.
Pengajaran non-direktif cenderung
bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha
untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan menciptakan
suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa dapat dipupuk
dan dikembangkan.
Guru juga berperan sebagai benevolent
after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan
dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru secara tidak langsung
berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan perasaan bisa diterima.
Teknik utama untuk mengembangkan hubungan
yang fasilitatif adalah dengan wawancara non-direktif, suatu rangkaian
pertemuan face-to-face antara guru dengan siswa. Selama wawancara, guru
menempatkan dirinya sebagai kolaborator didalam proses eksplorasi diri siswa
dan pemecahan masalah. Wawancara sendiri dirancang untuk berfokus kepada
keunikan individual dan pentingnya kehidupan emosional pada semua aktivitas
manusia. Meskipun teknik wawancara dipinjam dari konseling, namun teknik ini
tidak sama di ruang kelas karena berada pada setting klinik (penyembuhan).
Menurut Roger, suasana wawancara terbaik
memiliki empat kualitas, antara lain:
1.
Guru menunjukkan kehangatan dan tanggap
2.
Hubungan konseling dicirikan oleh rasa
permisif yang ditunjukkan oleh ekspresi
3.
Siswa bebas mengekspresikan pendapatnya,
namun dalam batasan bahwa ia tidak bebas untuk mengendalikan guru atau
melakukan gerak hatinya dengan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan
4.
Hubungan konseling bersifat bebas dari suatu
jenis tekanan atau koersi
Didalam wawancara non-direktif, guru
menginginkan siswanya untuk bisa melewati empat tahap pertumbuhan personal:
1.
pelepasan perasaan
2.
Pemahaman yang diikuti oleh
3.
Tindakan, dan
4.
Integrasi
D. Aflikasi
Pembelajaran Non Direktif
Model
Pembelajaran Pengajaran Tidak Langsung (tanpa menggurui) bisa digunakan untuk
berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan akademik. Dalam
masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam masalah
sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan
menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang
lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan
minatnya. Dari semua kasus di atas, esensi atau muatan wawancara hams bersifat
personal, bukan eksternal. Artinya harus datang dari perasaan, pengalaman,
pemahaman dan solusi yang dipilihnya sendiri. Inilah inti dari istilah Tidak
Menggurui (Non-Directive) yang dimaksud oleh Rogers.
Pengajaran non-direktif mungkin digunakan untuk
beberapa jenis situasi permasalahan: personal, sosial, dan akademik. Di dalam
kes sebuah masalah personal, individu meneroka perasaannya tentang dirinya
sendiri. Di dalam masalah sosial, dia meneroka perasaannya tentang
hubungannya dengan yang lain, dan menyiasat bagaimana perasaannya tentang
dirinya sendiri mungkin mempengaruhi hubungan - hubungan ini. Di dalam
masalah akademik, dia meneroka perasaannya tentang kompetensi dan
ketertarikannya. Bagaimanapun, pada masing - masing kes, isi interview
selalu personal lebih baik berbanding dengan luaran; hal ini berpusat pada
perasaan yang dimiliki individu itu sendiri, pengalaman, wawasan, dan
penyelesaian.
Untuk menggunakan Model Pengajaran non-direktif
secara berkesan, seorang guru harus mempunyai keinginan untuk menerima bahawa
seorang pelajar dapat memahami akan dia dan kehidupannya sendiri.
Guru tidak berusaha untuk menghakimi, menasihati, menenangkan, atau membesarkan hati pelajar.Guru tidak berusaha untuk mendiagnosis permasalahan. Pada model ini, guru menentukan fikiran dan perasaan personal sementara dan merefleksikan fikiran dan perasaan yang dimiliki pelajar.Dengan melakukan ini, guru menyampaikan pemahaman yang mendalam dan menerima perasaan yang dimiliki pelajar.
Guru tidak berusaha untuk menghakimi, menasihati, menenangkan, atau membesarkan hati pelajar.Guru tidak berusaha untuk mendiagnosis permasalahan. Pada model ini, guru menentukan fikiran dan perasaan personal sementara dan merefleksikan fikiran dan perasaan yang dimiliki pelajar.Dengan melakukan ini, guru menyampaikan pemahaman yang mendalam dan menerima perasaan yang dimiliki pelajar.
Roger menyimpulkan bahawa sesetengah keadaan benar -
benar sukar untuk merasakan perspektif yang dimiliki pelajar, khususnya jika
pelajar bingung. Strategi hanya bekerja jika guru memasukkan dunia
pemahaman pelajar dan meninggalkan di belakang rujukan tradisional. Mengembangkan
sebuah kerangka rujukan dalaman tidaklah mudah pada awalnya, akan tetapi hal
ini perlu jika guru memahami pelajar, tidak pelajarnya saja. .
Salah satu pentingnya kegunaan pengajaran
non-direktif terjadi ketika sebuah kelas menjadi membosankan dan guru termasuk
dirinya sendiri yang mendorong pelajar melalui latihan - latihan dan pokok
permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Abbdurrahman,
Hafidz, Membangun Kepribadian Pendidik Umat Keteladanan Rasulullah SAW
di Bidang Pendidikan. Ciputat: Wadi Press, 2008.
Maunah,
Binti, Supervisi Pendidikan Islam Teori dan Praktek. Yogyakarta:
Sukses Offset, 2009.
Muhajir,
As’aril, Ilmu Pendidikan Perspektif Konstekstual, Jogjakarta:
Ar Ruzz Media, 2011
Faiq,
Muhammad. (2013). Fakta-Fakta Pro
Kontra Seputar Pemberlakuan Kurikulum 2013. [Online].
Tersedia
Kemendikbud.
(2012). Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Jakarta : Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan.
Sidiknas.
(2012). Uji Publik Kurikulum 2013: Penyederhanaan, Tematik-Integratif .[Online].
Tersedia :http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-1
[1 April
2013]
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/03/fakta-fakta-seputar-kurikulum-2013.html[31
Maret 2013].
