Sabtu, 06 April 2013

Makalah Model Non Direktif


MODEL PEMBELAJARAN NON DIREKTIF
DALAM KONTEKS PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013
Oleh : Sri Restiana Rahmat

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan, metode pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang menunjang keberhasilan dalam proses belajar mengajar tersebut. Seperti telah dikenalkan dalam banyak buku, banyak sekali metode-metode pengajaran tersebut, seperti metode ceramah, diskusi, atau musyawarah, metode kerja kelompok, metode sosiodrama atau bermain peran (role playing), metode latihan siap (drill), metode resitasi (pemberian tugas), metode sistem regu (team teaching), dan lain-lain.
Dari sekian banyak metode yang telah disebutkan di atas memungkinkan para guru untuk memilih metode mana yang cocok untuk digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran, bahkan guru dapat memakai satu, dua atau lebih metode dalam sekali mengajar.
Dalam makalah ini kami akan mengangkat tema sebuah metode yang merupakan inovasi dalam metodologi pendidikan yaitu metode Non-Directive yang akan dijelaskan di bawah ini.
1
 
Analisis  mengenai konsep pembelajaran pada kurikulum 2013 ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana konsep pembelajaran berkembang. Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bagaimanpun suatu kurikulum, pasti memiliki suatu konsep yang lebih ditonjolkan dalam proses pembelajaran. Namun, mengenai konsep yang lebih ditonjolkan tersebut disesuaikan dengan kondisi pada saat diberlakukannya kurikulum tersebut, sehingga dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dalam memaknai konsep pembelajaranpun akan berkembang dengan menggunakan model-model pembelajaran yang sesuai.
Kurikulum dan Pendidikan bagaikan dua keping uang, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan tidak bisa terpisahkan. Dengan berkembangnya kurikulum pendidikan, maka berkembang pula suatu pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran. Sesuai dengan  kurikulum 2013, bahwa dalam hal pembelajaran peserta didik lebih ditekankannya aspek afektif, lebih khusus lagi yang berhubungan dengan pendidikan karakter. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Adapun pembelajaran secara umum adalah suatu usaha yang sengaja menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki pendidik untuk mencapai tujuan  kurikulum. Sehingga dalam pelaksanaannya antara kurikulum dan pembelajaran tidak dapat di pisahkan.
Adapun dalam analisis ini hanya akan dibahas mengenai perkembangan konsep pembelajaran Non Direktif  dalam kontks pembelajaran yang terkandung dalam kurikulum 2013 yang akan mempengaruhi model-model pembelajaran yang dilakukan, sehingga dapat dilihat konsep pembelajaran yang ditonjolkan dalam kurikulum 2013.
B.       Batasan dan Rumusan Masalah
1.      Batasan Masalah
Dari uraian di atas, penyajian makalah dibatasi pada “Bagaimana model pembelajaran non direktif dalam konteks pembelajaran kurikulum 2013 yang akan dikembangkan”
2.      Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran non direktif dan bagaimana prosedur pelaksanaannya?
b.      Bagaimana konsep pembelajaran kurikulum 2013 yang akan dikembangkan?
c.       Bagaimana relevansi model pembelajaran non direktif terhadap konsep pembelajaran kurikulum 2013?

C.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui model pembelajaran non direktif dan bagaimana prosedur pelaksanaannya.
b.      Untuk mengetahui konsep pembelajaran kurikulum 2013 yang akan dikembangkan.
c.       Untuk mengetahui relevansi model pembelajaran non direktif terhadap  konsep pembelajaran kurikulum 2013.
2.      Manfaat Penelitian
a.         Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan masukan bagi para guru dalam menetapkan kebijakan penetapan model pembelajaran pada konsep pembelajaran kurikulum 2013  yang dijalankannya.
b.         Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan referensi bagai peneliti lain yang berminat melakukan penelitian di bidang model pembelajaran non direkktif  di masa yang akan datang.
c.         Bagi peneliti dapat dijadikan sebagai media latihan untuk mengaplikasikan kembali model-model pembelajaran yang pernah dipelajari selama mengikuti perkuliahan.
D.      Kerangka Berfikir
Kerangka pemikiran adalah suatu diagram yang menjelaskan secara garis besar alur logika berjalannya sebuah penelitian. Kerangka pemikiran dibuat berdasarkan pertanyaan penelitian (research question), dan merepresentasikan suatu himpunan dari beberapa konsep serta hubungan diantara konsep-konsep tersebut (Polancik, 2009)
Berdasarkan dukungan landasan teoritik yang diperoleh dari eksplorasi teori yang dijadikan rujukan konsepsional variabel penelitiandi atas, maka dapat disusun Kerangka Pemikiran sebagai berikut :
 


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Metode Pembelajaran Non Direktif
Metode ini dikemukakan oleh Carl Rogers. Dalam pengajaran seharusnya didasarkan pada konsep-konsep hubungan manusiawi diri pada konsep-konsep bidang studi, proses berpikir atau sumber-sumber intelektual lainnya. Menurut metode ini guru berperan sebagai fasilitator dan membantu siswa menjelajahi ide-ide baru tentang hidupnya, tugas sekolahnya dan kehidupan dengan teman-temannya.
Peran guru dari pengajaran non-direktif adalah pada peran dari guru tersebut sebagai fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Didalam peran ini, guru akan membantu siswa untuk menemukan gagasan-gagasan baru tentang kehidupannya, baik yang berhubungan dengan sekolah maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Metode ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka dengan orang lain.
Metode ini dikembangkan untuk membuat pendidikan menjadi suatu proses yang aktif bukan pasif. Cara belajar ini dilakukan agar para siswa mampu melakukan observasi mereka sendiri, mampu mengadakan analisis mereka sendiri, dan mampu berpikir sendiri. Mereka bukan hanya mampu menghafalkan dan menirukan pendapat orang lain. Juga dapat merangsang para siswa agar berani dan mampu menyatakan dirinya sendiri aktif, bukan hanya menjadi pendengar yang pasif terhadap segala sesuatu yang dikatakan oleh guru.
Siswa diizinkan untuk meneliti sendiri dari perpustakaan, ataupun kenyataan di lapangan. Guru hanya memberi pokok-pokok tugas, yang telah tersusun sehingga dengan tugas tersebut siswa dapat melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1.         Observasi pada objek pelajaran;
2.         Menganalisa fakta yang dihadapi;
3.         Menyimpulkan sendiri hasil pengamatannya;
4.         Menjelaskan apa yang telah ditemukan;
5.         Membendingkan dengan fakta yang lain.
Guru hanya memberi permasalahan yang merangsang proses berpikir siswa, sehingga objek belajar itu berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan yang digalinya, aktif berpikir dan menyusun pengertian yang baik.
Perlu disampaikan juga disini bahwa yang dimaksud dengan non-direktif adalah tanpa menggurui. Model pengajaran non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh lain pengembang konseling non-direktif.
Peran guru dalam model pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru hendaknya mempunyai hubungan pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu sebagai pembimbing bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam menjalankan perannya ini, guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya, lingkungan sekolahnya dan hubungannya dengan orang-orang lain. Model ini menggambarkan konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan. Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat mempedulikan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan merumuskan solusi-solusinya.
Pengajaran non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan menciptakan suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa dapat dipupuk dan dikembangkan.
Guru juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru secara tidak langsung berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan perasaan bisa diterima.
B.       Prosedur Pembelajaran Non Direkktif
Teknik utama dalam mengaplikasikan model pembelajaran pengajaran tidak langsung adalah apa yang diistilahkan oleh Roger sebagai Non-directive Interview atau wawancara tanpa menggurui, yaitu wawancara tatap muka antara guru dan siswa. Selama wawancara, guru berperan sebagai kolaborator dalam proses penggalian jati diri dan pemecahan masalah siswa. Inilah yang dimaksud dengan tanpa menggurui non-directive.
Kunci utama keberhasilan dalam menerapkan model ini adalah kemitraan antara guru dan siswa. Menurut Rogers, iklim wawancara yang dilakukan oleh guru harus memenuhi empat syarat yaitu:
(1) guru harus mampu menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa dan memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia, (2) guru harus mampu membuat siswa dapat mengekspresikan perasaanya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah atau mencap buruk), (3) siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaanya, dan (4) proses konseling (wawancara) harus bebas dari tekanan;
C.      Orientasi Pembelajaran Non Direktif
Sebelumnya perlu disampaikan disini bahwa yang dimaksud dengan non-direktif adalah tanpa menggurui. Model pengajaran non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh lain pengembang konseling non-direktif.
Peran guru dalam model pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru hendaknya mempunyai hubungan pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu sebagai pembimbing bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam menjalankan perannya ini, guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya, lingkungan sekolahnya dan hubungannya dengan orang-orang lain. Model ini menggambarkan konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan. Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat mempedulikan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan merumuskan solusi-solusinya.
Pengajaran non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan menciptakan suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa dapat dipupuk dan dikembangkan.
Guru juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru secara tidak langsung berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan perasaan bisa diterima.
Teknik utama untuk mengembangkan hubungan yang fasilitatif adalah dengan wawancara non-direktif, suatu rangkaian pertemuan face-to-face antara guru dengan siswa. Selama wawancara, guru menempatkan dirinya sebagai kolaborator didalam proses eksplorasi diri siswa dan pemecahan masalah. Wawancara sendiri dirancang untuk berfokus kepada keunikan individual dan pentingnya kehidupan emosional pada semua aktivitas manusia. Meskipun teknik wawancara dipinjam dari konseling, namun teknik ini tidak sama di ruang kelas karena berada pada setting klinik (penyembuhan).


Menurut Roger, suasana wawancara terbaik memiliki empat kualitas, antara lain:
1.         Guru menunjukkan kehangatan dan tanggap
2.         Hubungan konseling dicirikan oleh rasa permisif yang ditunjukkan oleh ekspresi
3.         Siswa bebas mengekspresikan pendapatnya, namun dalam batasan bahwa ia tidak bebas untuk mengendalikan guru atau melakukan gerak hatinya dengan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan
4.         Hubungan konseling bersifat bebas dari suatu jenis tekanan atau koersi
Didalam wawancara non-direktif, guru menginginkan siswanya untuk bisa melewati empat tahap pertumbuhan personal:
1.         pelepasan perasaan
2.         Pemahaman yang diikuti oleh
3.         Tindakan, dan
4.         Integrasi
D.      Aflikasi Pembelajaran Non Direktif
Model Pembelajaran Pengajaran Tidak Langsung (tanpa menggurui) bisa digunakan untuk berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan akademik. Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan minatnya. Dari semua kasus di atas, esensi atau muatan wawancara hams bersifat personal, bukan eksternal. Artinya harus datang dari perasaan, pengalaman, pemahaman dan solusi yang dipilihnya sendiri. Inilah inti dari istilah Tidak Menggurui (Non-Directive) yang dimaksud oleh Rogers.
Pengajaran non-direktif mungkin digunakan untuk beberapa jenis situasi permasalahan: personal, sosial, dan akademik. Di dalam kes sebuah masalah personal, individu meneroka perasaannya tentang dirinya sendiri. Di dalam masalah sosial, dia meneroka perasaannya tentang hubungannya dengan yang lain, dan menyiasat bagaimana perasaannya tentang dirinya sendiri mungkin mempengaruhi hubungan - hubungan ini. Di dalam masalah akademik, dia meneroka perasaannya tentang kompetensi dan ketertarikannya. Bagaimanapun, pada masing - masing kes, isi interview selalu personal lebih baik berbanding dengan luaran; hal ini berpusat pada perasaan yang dimiliki individu itu sendiri, pengalaman, wawasan, dan penyelesaian.
Untuk menggunakan Model Pengajaran non-direktif secara berkesan, seorang guru harus mempunyai keinginan untuk menerima bahawa seorang pelajar dapat memahami akan dia dan kehidupannya sendiri.
Guru tidak berusaha untuk menghakimi, menasihati, menenangkan, atau membesarkan hati pelajar.Guru tidak berusaha untuk mendiagnosis permasalahan. Pada model ini, guru menentukan fikiran dan perasaan personal sementara dan merefleksikan fikiran dan perasaan yang dimiliki pelajar.Dengan melakukan ini, guru menyampaikan pemahaman yang mendalam dan menerima perasaan yang dimiliki pelajar.
Roger menyimpulkan bahawa sesetengah keadaan benar - benar sukar untuk merasakan perspektif yang dimiliki pelajar, khususnya jika pelajar bingung. Strategi hanya bekerja jika guru memasukkan dunia pemahaman pelajar dan meninggalkan di belakang rujukan tradisional. Mengembangkan sebuah kerangka rujukan dalaman tidaklah mudah pada awalnya, akan tetapi hal ini perlu jika guru memahami pelajar, tidak pelajarnya saja. .
Salah satu pentingnya kegunaan pengajaran non-direktif terjadi ketika sebuah kelas menjadi membosankan dan guru termasuk dirinya sendiri yang mendorong pelajar melalui latihan - latihan dan pokok permasalahan.












DAFTAR PUSTAKA

Abbdurrahman, Hafidz, Membangun Kepribadian Pendidik Umat Keteladanan Rasulullah SAW di Bidang Pendidikan. Ciputat: Wadi Press, 2008.
Maunah, Binti, Supervisi Pendidikan Islam Teori dan Praktek. Yogyakarta: Sukses Offset, 2009.
Muhajir, As’aril, Ilmu Pendidikan Perspektif Konstekstual, Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2011
Faiq, Muhammad. (2013). Fakta-Fakta Pro Kontra Seputar Pemberlakuan Kurikulum 2013[Online]. Tersedia
Kemendikbud. (2012). Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sidiknas. (2012). Uji Publik Kurikulum 2013: Penyederhanaan, Tematik-Integratif .[Online]. Tersedia :http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-1 [1 April 2013]